√ Kisah Uwais Al-Qarni: Pemuda Miskin Yang Di Cintai Penghuni Langit Dan Di Janjikan Syurga

Ruang Diary - Di artikel ini kita akan membahas kisah uwais al-qarni pemuda miskin yang tidak terkenal di bumi namun sangat terkenal di langit dan di janjikan syurga oleh Allah Swt.

Siapakah uwais al-qarni itu?

Uwais Al-Qarni adalah seorang pemuda yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW, ia dalam keadaan yatim, hidupnya miskin, memiliki penyakit kulit, dan dengan senang hati menyambut seruan Islam, namun tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW. 

Kendati tidak pernah bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW, Uwais al-qarni ini disebut sebagai penghuni langit, atau orang syurga yang berada di dunia.

Uwais al-qarni tumbuh dalam keadaan yatim. Karena sebab itulah, kasih sayangnya ia limpahkan kepada ibunya. 

Sebagian besar usia hidupnya ia tekuni untuk selalu berbakti kepada sang ibu yang tengah berpenyakit lumpuh dan buta.

Uwais al-qarni tinggal di daerah Qarn, pinggiran di kota Yaman. Ketika dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sampai ke Yaman, Uwais termasuk orang yang menerima islam dan mengucapkan syahadat.

Akan tetapi, Uwais alqarni ini selalu merasa sedih karena tidak bisa berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW. Cerita tentang perjuangan dan dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW hanya ia dengar dari teman dan tetangga-tetangganya.


Suatu waktu, Uwais al-qarni mendengar kabar bahwa gigi Rasulullah SAW patah karena dilempari batu oleh kaum Thaif yang tidak menerima ajaran Islam. 

Merespon hal itu, Uwais al-qarni pun ikut mematahkan giginya sendiri dengan batu untuk merasakan derita yang dialami oleh Rasulullah SAW.

Karena uwais al-qarni tidak dapat menahan lagi kerinduannya terhadap Rasulullah SAW, Uwais pun meminta izin kepada ibunya agar ia di perkenankan pergi menemui Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Ibunya pun merestui kepergian Uwais pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW, namun dengan syarat agar ia cepat kembali ke Yaman karena ibunya tidak bisa ditinggal terlalu lama.

Selepas perjalanan panjang ke Madinah, Uwais alqarni ternyata hanya bertemu dengan Aisyah RA. Nabi Muhammad SAW saat itu ternyata sedang berada di medan perang.

Karena tidak bisa berjumpa dengan Rasulullah SAW, Uwais pun akhirnya hanya menitipkan salam kepada Nabi Muhammad melalui Aisyah RA. Uwais teringat pesan ibunya agar ia segera pulang ke Yaman.

Ternyata ketaatan uwais kepada ibunya mengalahkan keinginannya untuk menunggu dan bertemu Rasulullah SAW. Pada akhirnya, Uwais pun memutuskan segera kembali ke Yaman tanpa pernah berjumpa langsung dengan Rasulullah SAW.

Kemudian pada kesempatan yang lain, sang ibu meminta Uwais Al-Qarni untuk mengantarkannya pergi haji. 

mengingat perjalanan dari yaman ke makkah sangat jauh, uwais memutuskan untuk melatih fisiknya dengan menggendong seekor lembu bolak-balik setiap hari, agar saatnya tiba pergi haji mampu menggendong ibunya yang jaraknya sangat jauh itu.


Orang-orang sekelilingnya menganggap uwais sudah gila karena kegiatannya selalu menggendong seekor lembu dari bukit.

Setelah fisiknya dirasa telah mampu, dengan sekuat tenaga uwais menggendong ibunya yang lumpuh dan buta itu untuk berziarah ke Baitullah yang perjalanannya sangat jauh.

itulah sebabnya Allah sangat mencintai uwais alqarni karena kepatuhannya terhadap ibunya dan menerima ajaran islam dengan baik.

Hingga akhir hayatnya, Uwais Al-Qarni di anggap sebagai tabi'in dan tidak bisa dianggap sebagai sahabat nabi. Sebab, salah satu indikator seseorang bisa disebut sebagai sahabat nabi adalah harus bertemu langsung dengan Rasulullah Saw.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Ishabah fi Tamyizi As-Sahabah (1995) menuliskan definisi sahabat nabi adalah“orang yang pernah berjumpa dengan Nabi SAW dalam keadaan beriman kepadanya, serta meninggal dalam keadaan Islam." 

Jadi, dengan melihat definisi diatas, Uwais Al-Qarni bukanlah bagian dari golongan sahabat nabi.

Kendati demikian, sosok Uwais Al-Qarni dianggap sebagai pemimpin para tabi'in berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW kepada Umar bin Khattab.

"Jika kamu bisa meminta kepadanya [Uwais Al-Qarni] untuk memohonkan ampun kepada Allah untukmu, maka lakukanlah!". 

Di riwayat yang lain, Meski belum pernah berjumpa dengan Nabi, Rasulullah seperti sudah mengenal betul pemuda miskin itu. Ia memuji Uwais dengan mengatakan kepada para Sahabat yang lain, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi,” (HR. Ahmad).

Sabda Rasulullah Saw tersebut terus dipegang oleh Umar bin Khattab hingga ia diangkat sebagai khalifah kedua dalam Kekhalifahan Rasyidin. 

Setiap kali datang jemaah haji dari kota Yaman, Umar bin Khattab selalu menanyakan tentang keberadaan Uwais Al-Qarni.

Suatu waktu, Umar bin Khattab bertanya kepada jemaah haji: "Apakah kalian mengenal Uwais Al-Qarni?" Sekelompok jemaah dari Yaman menjawab: "Iya". Umar kemudian menimpali lagi, "Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?" Mereka menjawab tanpa mengetahui derajat Uwais, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya usang."

Umar bin Khattab berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullah SAW pernah bercerita tentang Uwais. Kalau dia bisa memohonkan ampun untuk kalian, lakukanlah!"

Beberapa waktu kemudian, Umar bin Khattab akhirnya berjumpa langsung dengan Uwais Al-Qarni. Umar bin khattab pun meminta Uwais agar mendoakan dirinya. 

Selain itu, Umar juga bermaksud memberikan santunan dan meminta walikota Irak agar memuliakan Uwais Al-Qarni.

Namun, tawaran Umar bin khattab ditolak oleh Uwais Al-Qarni. Ia hanya ingin agar hidupnya tenang dan dapat beribadah tanpa gangguan dari orang lain.

"Biarlah saya berjalan di tengah lalu lalang kerumunan tanpa dipedulikan banyak orang," kata Uwais kepada Umar bin Khattab, sebagaimana dikutip dari buku Akidah Akhlak (2020) yang ditulis Sihabul Milahudin.

Beberapa tahun setelah bertemu umar bin khattab, Uwais akhirnya meninggal dunia. Rumah Uwais Al-Qarni penuh didatangi oleh orang-orang yang bertakziah. 

Masyarakat Yaman saat itu merasa heran dengan orang-orang yang berebut untuk memandikan, menshalatkan dan menguburkan jenazah Uwais Al-Qarni.

Selama ini, Uwais Al-Qarni hanya dikenal masyarakat sebagai pemuda yang miskin, berbaju lusuh, dan bukan orang terpandang di Yaman.

Orang-orang yaman pun terus berpikir, kenapa banyak rombongan orang-orang yang bertakziah di hari kematiannya?

Dalam buku Kisah Uwais Al-Qarni Sang Penghuni Langit, Muhammad Vandestra juga menuliskan bahwa banyak orang meyakini, yang ingin memandikan, menshalatkan, dan menguburkan jenazah Uwais Al-Qarni adalah para malaikat, bukan dari golongan manusia.

Penulis Oleh :

Buka Komentar
Tutup Komentar

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 2