√ Benarkah Umat Manusia Tinggal Di Bumi Karena Kesalahan Nabi Adam?

Ruang Diary - Pada awal penciptaan, manusia mendiami surga sebagai tempat tinggalnya. Ya, Nabi Adam Alaihis Salam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT dan pernah merasakan kenikmatan berada di Surga.

Akan tetapi, bisikan iblis mampu menggoda Nabi Adam As dan Siti Hawa. Mereka memakan buah terlarang sehingga Allah SWT mengusirnya dari surga. 

Seluruh ummat manusia keturunan Nabi Adam A.S akhirnya menjalani kehidupan di muka bumi.

Kesalahan Nabi Adam as karena melanggar perintah Allah tak jarang di sesali oleh ummat manusia hingga sekarang ini. Ya, karena kelalaian Nabi Adam yang memakan buah khuldi, manusia harus dikeluarkan dari surga. 

Bahkan, Nabi Musa as pun pernah menyalahkan Nabi Adam A.S atas kesalahannya itu. 

Namun, benarkah manusia tinggal di bumi karena kesalahan Nabi Adam?
 

 
Ketika Nabi Adam diciptakan, Allah SWT memerintahkan seluruh malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam. Seluruh malaikat patuh untuk bersujud kepada nabi Adam, kecuali Iblis.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam). Lalu kami bentuk tubuhmu. Kemudian kami katakan kepada malaikat : ”bersujudlah kalian kepada Adam.’ Maka mereka pun bersujud, kecuali Iblis. Ia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman ‘ apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika aku menyuruhmu? Iblis menjawab ‘aku lebih baik dari padanya. Sebab Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah. (Q.S Al A’raf: 11-12)
Permusuhan pun dimulai. Allah SWT kemudian mengusir iblis laknatullah dari surga meskipun sebelumnya iblis memiliki ketaatan yang sangat luar biasa kepada Allah.
Allah berfirman: "Keluarlah dari surga karena sesungguhnya kamu makhluk terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpa dirimu sampai hari kiamat. (Q.S Al-Hijr 35).
Sejak peristiwa itu, iblis berjanji akan terus memperdaya dan menggoda seluruh keturunan anak cucu Adam agar kelak tinggal bersama di neraka.

Nabi Adam as menjalani kehidupan di surga bersama istrinya yaitu Siti Hawa dan diberikan bekal ilmu pengetahuan oleh Allah SWT. Kemudian sampailah diberikan larangan untuk tidak mendekati pohon khuldi.
Allah Swt berfirman:
“Dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini yang menyebabkan kamu berdua termasuk golongan orang-orang yang dzolim” (Q.S Al Baqarah: 35).
Saat mendengar kabar itu, Iblis kemudian memulai aksinya. Ia berusaha menggoda Nabi Adam dan Siti Hawa untuk mendekati dan memakan buah terlarang tersebut. 

Saat itu, Nabi adam dan Hawa tergoda untuk mencicipi buah terlarang itu, dan apa yang terjadi selanjutnya di ceritakan Allah dalam Al-quran.
“Maka setan membujuk keduanya untuk memakan buah itu dengan tipu daya. Tatkala keduanya mencicipi buah pohon itu, tampak bagi keduanya aurat-auratnya maka mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga” (Q.S Al A’raf:22)
Allah SWT kemudian berfirman:
“Kemudian Tuhan mereka menyeru kepada mereka: ‘Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepada kalian: Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua’?’ Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan Kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (Q.S Al A’raf 22-23)
Allah SWT kemudian berfirman:
”Turunlah kamu sekalian! Sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu sekalian mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) dimuka bumi sampai waktu yang ditentukan.
Meski Nabi adam dan siti hawa terusir dari surga, namun sebelum penciptaan Nabi Adam as, Allah telah menyampaikan kepada seluruh makhluknya, bahwa Allah SWT hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (Q.S Albaqarah:30)
Lantas, mengapa Nabi Adam A.S seringkali di jadikan sasaran kemarahan para keturunannya atas keputusan Allah SWT saat mengusirnya dari surga dan di tempatkan di muka bumi?,

Padahal sejak awal, Allah SWT sudah mengatakan hendak menciptakan khalifah di muka bumi.

Bahkan Nabi Musa A.S pun pernah berdebat dengan Nabi Adam terkait hal ini. Namun, jawaban Nabi Adam berikut sekiranya bisa menjadi pencerahan dan jawaban bagi kita yang selama ini menyalahkan Nabi Adam.
Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Musa pernah mendebat Adam as. Musa berkata kepada Adam: ‘Engkau telah mengeluarkan manusia dari surga hingga membuat mereka sengsara karena kesalahanmu. Kemudian ‘Adam menjawab: ‘ Wahai Musa, engkau telah dipilih oleh Allah dengan risalah dan kalam-Nya. Apa engkau mencela diriku atas suatu hal yang telah ditulis Allah sebelum Dia menciptakan aku atau yang telah ditakdirkan Allah terhadap diriku sebelum Dia menciptakan aku? Rasulullah SAW bersabda: Maka Adam dapat membantah argumen Musa” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain Imam Ahmad juga berkata: 
"Sufyan menceritakan kepada kami, dari Amru ia mendengar Thawus, dan ia mendengar Abu Hurairah berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Adam dan Musa pernah saling berdebat. Musa berkata: Wahai Adam, engkau adalah bapak moyang kami. Engkau telah mengecewakan dan mengeluarkan kami dari surga. ‘Adam berkata kepada Musa: Wahai Musa, engkau telah dipilih Allah dengan Kalam-Nya- Dalam riwayat lain dengan Risalah-Nya. Dia juga telah menulis (al-kitab) untukmu dengan tangan-Nya. Apakah engkau mencela diriku atas persoalan yang telah ditetapkan Allah bagiku empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku? Selanjutnya, Rasulullah SAW bersabda: ‘Akhirnya, Adam dapat membantah argumen Musa, Akhirnya, Adam dapat membantah argumen Musa, Akhirnya, Adam dapat membantah argumen Musa. ”
Hadits ini sebagian besar diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Dalam kitab tersebut di katakan bahwa Nabi Musa mencela Nabi Adam karena ia telah mengeluarkan Musa, Adam sendiri, dan juga anak-anak keturunannya dari surga. 
Kemudian Adam berkata kepada Musa ‘Aku tidak mengeluarkan kalian dari surga. Akan tetapi, aku mengeluarkan kalian karena telah terjadi serangkaian kejadian yang menyebabkan diriku memakan buah pohon itu. Serangkaian kejadian itu telah tertulis bagiku dan telah ditakdirkan untukku sebelum aku diciptakan oleh Allah yang Mahabijaksana dan Mahaagung. Engkau telah mencela diriku. Padahal perkara yang menjadi penyebab utamanya lebih rumit dari sekedar pelarangan bagiku untuk tidak memakan buah pohon itu lalu aku tergoda untuk memakannya. Adanya rentetan kondisi yang menyebabkan terjadinya pengeluaran dari surga itu merupakan bagian dari perbuatanku. Sesungguhnya perkara ini merupakan kuasa dan ketentuan dari Allah. Sungguh ada hikmah dibalik peristiwa ini.” Akhirnya Adam dapat mengalahkan argumentasi Musa.’ Abu Ya’la, Al-Musnad, 1/211, no 105-(244), al-Ajari di dalam Kitab asy-Syari’ah/180.
Demikianlah artikel yang bermanfaat ini, semoga apa yang menjadi jawaban Nabi Adam kepada Nabi Musa As, mewakili pertanyaan kita dan menghilangkan sikap menyalahkan Nabi Adam As atas terusirnya manusia dari surga.

Sejatinya, kita semua juga akan kembali ke surga, namun harus terlebih dahulu mengumpulkan bekal amal baik serta patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.

Penulis Oleh :

Buka Komentar
Tutup Komentar

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 2