√ Perang Khandaq: 3 Ribu Pasukan Kaum Muslimin Kalahkan 10 Ribu Pasukan Musrikin

Ruang Diary - Sejarah Perang Khandaq  menjadi bukti bahwa taktik umat Islam ketika menghadapi musuh tidak bisa di pandang sebelah mata. 

Bayangkan saja, 10 ribu pasukan musuh takhluk pada 3 ribu pasukan kaum Muslimin.

Khandaq dalam bahasa Persia adalah parit. Ya, masa perang itu Kota Madinah di jadikan parit sebagai bentuk pertahanan. Rasulullah SAW juga ikut bersama sahabat untuk menggali parit tersebut.

Perang khandaq ini terjadi karena kemarahan Yahudi yang diusir dari Madinah oleh Rasulullah. Sebab, Mereka telah melanggar perjanjian-perjanjian yang telah di tentukan sehingga dikeluarkan dari Madinah. 

Bangsa Yahudi  yaitu Bani Nadhir lalu mencari koalisi untuk mengalahkan umat Muslimin.


Sejarah Perang Khandaq

Perang khandaq ini terjadi pada bulan Syawal 5 Hijriah. Tepatnya setelah Rasulullah SAW mengusir kaum Yahudi  Bani Nadhir. Kemudian para petinggi mereka menjadi geram dan menyiapkan koalisi dengan kaum lainnya yang juga menaruh dendam kepada umat Islam. 

Koalisi ini akhirnya terbentuk antara kaum Yahudi Bani Nadhir-Quraisy, Bani Murrah, Ghathafan dan kaum Asyja untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah.

Bani Nadhir dipimpin oleh Sallam bin Abdul Huqaiq, Huyay bin Akhtab dan Kinanah bin Rabi’. 

Di samping itu, Abu Sufyan memimpin pasukan kaum Quraisy, sedangkan kaum Ghathafan dipimpin oleh Uyainah bin Hisn dari Bani Fazarah. 

Bani Murrah dipimpin oleh Al Harist bin Auf bin Abu Haritsah al-Murri'. Sedangkan kaum Asyja dipimpin oleh Mir’ar bin Rukhailah bin Nuwairah bin Tharif. Dan dari semua itu komando tertinggi dipegang oleh Abu Sufyan. 

Mendengar berita itu, Rasulullah SAW langsung menyiapkan strategi. Terutama melakukan musyawarah secara mufakat dilakukan bersama dengan para sahabat untuk mencapai strategi yang disepakati bersama.

Pada akhirnya munculah saran dari Salman al-Farisi tentang penggalian parit dibagian utara Kota Madinah yang menjadi satu-satunya jalan masuk ke Kota Madinah. Rasulullah SAW pun menyetujui  usulan tersebut.

Dengan para Kaum Muslimin, bersama-sama bergegas melakukan penggalian di parit.

Para sahabat dan kaum muslimin semakin semangat karena Nabi Muhammad SAW juga turut membantu. 

Setelah parit sudah terbentuk, Rasulullah SAW memerintahkan para wanita dan anak-anak untuk ditempatkan di Benteng terkuat di Madinah milik Bani Haritsah.

Pasukan musuh yang datang kemudian di buat kebingungan dengan strategi yang di buat oleh kaum muslimin. Terlebih lagi mereka baru kali ini menghadapi musuh dengan pertahanan menggunakan parit. 

Melewati parit tanpa jembatan penyebrangan sama halnya dengan bunuh diri. Karena pasukan muslimin akan dengan sangat mudah menghujamkan anak panahnya ke arah mereka.

Semangat pasukan musrikin yang awalnya bersemangat dan membara untuk mengalahkan kaum muslimin kini ciut melihat taktik yang tidak biasa ini. 

Namun ditengah-tengah redupnya semangat pasukan tersebut, masih ada beberapa orang yang ingin mencoba menerobos parit yang sangat dangkal itu. Seperti Amr bin Abdi Wudd Al-Amir yang berhasil melewati parit tersebut dengan menunggangi kudanya dan langsung menantang duel.

Lalu Ali bin Abi Thalib meladeni tantangannya dan berhasil menghunuskan pedangnya ke bahu Amr. Seketika itu, ia pun langsung tewas.

Disamping itu, Ternyata ada pula warga Madinah yang berhianat dengan cara membuka daerah pemukiman dipinggir kota yang tidak di gali menjadi parit. 

Kemudian pasukan musuh bergegas masuk dan sempat melakukan penyerangan dirumah Rasulullah Saw. Beruntung, mereka bisa cepat dipukul mundur oleh pasukan kaum muslimin.

Setelah berlangsung selama 15 hari, perpecahan pun mulai muncul di pihak kaum musrikin. Kaum Yahudi dari Bani Nadhir dan Quraizhah enggan berperang dihari Sabat. 

Sedangkan di pihak kaum Quraisy memaksa untuk tetap berperang melawan kaum muslimin. Quraisy pun merasa dikhianati oleh kaum Yahudi. Pada akhirnya persengketaan pun terjadi, dan persekutuan mereka menjadi porak-poranda.

Tidak hanya itu saja, Allah SWT juga memberikan pertolongan melalui angin. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya. Bahkan, Allah juga telah mengirimkan angin puting beliung yang memporak porandakan perkemahan mereka. 

Pasukan kaum musrikin pun kabur mencari pertolongan namun tidak ada yang menolongnya. 

Pagi harinya, perkemahan kaum musrikin sudah kosong dengan kondisi luluh lantah. Lalu semua perbekalan mereka diambil oleh pasukan Muslimin sebagai bentuk rampasan perang.

Penulis Oleh :

Buka Komentar
Tutup Komentar

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 2