√ Ingatlah, Tak Usah Mencari Orang Yang Sempurna Untuk Menegur Kita

Dalam tegur-menegur adalah suatu hal yang biasa dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.

Kita juga diciptakan untuk saling melengkapi, saling memperbaiki dan juga saling mengingatkan. Bukan malah saling menuduh, menuding dan mencemooh hanya karena kesalahan yang telah diperbuat.

Tak usah mencari orang yang sempurna untuk menegur diri kita, dan tak usah menjadi orang yang sempurna pula untuk menegur orang lain. Sebab, kita hanya dituntut untuk saling mengingatkan satu sama lain tanpa harus melihat statusnya.


"Renungkan Apa Yang Dibicarakan, Dan Jangan Melihat Siapa Yang Bicara"

Kebanyakan orang ketika ditegur akan merasa jengkel, kesal dan merasa dikucilkan, padahal menegur hanyalah memperingati kita untuk mengoreksi diri ketika berbuat salah.

Dan kebanyakan ketika menegur orang yang berbuat salah selalu dengan nada bicara tinggi, mencibir, dan merasa lebih baik darinya.

Seharusnya ketika menegur orang yang berbuat salah dengan nada bicara yang lemah lembut dan tenang.

Dan yang di tegur sebaiknya tidak melihat siapa yang mencoba untuk memperingati diri kita, akan tetapi yang terpenting adalah ucapannya telah mengingatkan kita dari kesalahan, tak usah marah ketika ada orang yang menegur kita. Meskipun dia orang yang sering melakukan sesuatu yang hina, namun perkataannya yang mengandung kebaikan untuk kita, maka harus kita terima.

"Ingatlah, menegur Jangan Sampai Menghina"

Kita berhak untuk menegur seseorang untuk memperbaiki kesalahan-Nya. Tetapi seringkali tanpa kita sadari selalu menegur orang lain dengan nada bicara tinggi, lantang dan menghina. Merasa diri kita paling benar dari yang kita tegur.

Padahal dalam hal tegur menegur orang lain, ada tata cara yang baik agar orang yang kita tegur tidak merasa dihina. Harusnya kita menegurnya dengan bahasa yang lemah lembut, sabar dan tenang tanpa bahasa yang mendekati perbuatan menghina.

Tegurlah ia ketika sedang berdua dengan bahasa hati kehati, beritahukanlah mengenai kesalahannya dengan bicara pelan. Jangan sampai menegur dengan suara lantang didepan orang banyak, karena hal tersebut sama saja dengan menghina-Nya.

"Ingatlah, Mendidik Jangan Sampai Memaki"

Ini biasanya terjadi pada para wanita yang sudah menjadi ibu dalam mendidik anak-anaknya. Kesalahan yang sering diperbuat oleh sang anak seringkali membuat ibunya memaki dengan kasar, nada bicara tinggi dan kasar.

Meskipun bermaksud untuk mendidiknya agar anak-anak tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun cara mendidiknya tetap salah.

Orangtua akan lebih dihormati apabila mendidik anak-anaknya dengan cara kasih sayang dan perkataan yang lemah lembut. Sehingga anak akan lebih bisa berfikir untuk tetap menghormatinya, sebagai contoh baik dalam lingkungan keluarga, dan timbul kepercayaan terhadap orang tua menjadi tanggung jawab baru baginya.

Karena dalam mendidik itu seperti memantau dari jauh sambil memberikan arahan-arahan sebagai alarm untuk melangkah lebih baik, bukan malah memakinya.

"Ingatlah, Meminta Jangan Sampai Memaksa"

Dalam hal minta-meminta biasanya sering terjadi pada lingkungan keluarga, misalnya seperti seorang anak meminta pada orang tuanya, dan istri pada suaminya.

Kenapa seperti itu?, karena sifat manja keduanya terkadang berubah menjadi memaksa demi memenuhi apa yang diinginkannya.

Seorang anak yang terbiasa dengan hidup kasih sayang yang melimpah tanpa adanya pesan moral yang diajarkan oleh ayah ibunya maka akan menjadikannya sosok yang berhati egois.

Begitu pula dengan seorang istri, ketika terbiasa dengan sifat manjanya dan terlalu besar egonya dikehidupan sebelumnya, maka ketika sudah menjadi seorang istri dia akan berlaku demikian pada suami-Nya.

Ia akan terus meminta sesuatu yang diinginkannya tanpa melihat kondisi suaminya mampu atau tidak, karena yang ada dalam benaknya hanya bagaimana keinginannya tersebut segera dipenuhi.

"Ingatlah, Memberi Jangan Sampai Mengungkit"

Dilingkungan masyarakat, perkara memberi kemudian mengungkit juga sering terjadi.

Jika hubungannya masih baik dalam bertetangga, berkeluarga dan lainnya kita terbiasa dengan saling memberi, tetapi tak sedikit pula pemberian itu akan menjadi masalah yang luar biasa ketika mengalami keretakan dan masalah, yang mengakibatkan pemberian sebelumnya menjadi bahan untuk diungkit.

Yang mulanya pemberian tersebut ikhlas menjadi riya’ karena sudah tidak lagi mempercayainya.

Padahal, memberi sesuatu kepada orang lain sama halnya membuang kotoran, seharusnya kita tidak perlu lagi membahasnya dikemudian hari, karena jika mengungkit atas apa yang telah kita beri, maka menjadikan pahala kita lenyap dan sia-sia.

penulis :

Iklan Tengah Artikel 2