√ Media Sosial Menjadi Jembatan Penghianatan Dalam Rumah Tangga

Tak heran jika saat ini sudah banyak terjadi perselingkuhan yang berujung pada perpisahan (perceraian). Peran media sosial memang sangat berpengaruh dalam memicu masalah-masalah baru yang terjadi pada hubungan rumah tangga.

Tak heran pula, seringkali seorang istri menjadi lalai menjalankan kewajibannya menjaga dan mendidik anak-anaknya. Ia terlalu asyik bermain Gadgetnya, hingga lupa bahwa tanggung jawabnya kini telah menjadi korban egonya demi mencari hiburan semata di media sosial.


"Berawal Dari Kata Jenuh, Kemudian Mencari Hiburan Di Media Sosial"

Tidak hanya disitu saja, Kewajiban yang semakin komplek di dalam rumah tangga menjadikan seorang istri terkadang semakin Jenuh di dalam rumah. Mulai merasa lelah mengurus semua keperluan rumah tangganya. Dari mulai anak-anak yang semakin sulit diatur, cucian menumpuk, Adanya sedikit konflik dalam rumah tangga, serta pendapatan suami kurang lancar yang membuatnya ingin mencari hiburan baru di media sosial.

Ia menjadi lupa bahwa pengaduan terbaiknya ialah pada Rabb-nya, bukan pada media sosial yang seakan-akan mampu menyelesaikan setiap masalahnya.

"Memulai Berkenalan Dengan Orang-Orang Baru Dan Menjalin Kembali Masa Lalunya"

Selanjutnya ia akan merasa senang mengenal dengan banyak orang-orang baru di media sosial. Merasa masalahnya bukan hanya terjadi pada dirinya sendiri. Karena setiap kali mengenal teman baru yang ia jumpai menawarkan solusi-solusi jitu untuk menyelesaikannya.

Di tambah lagi ketika ia menemukan kembali masa lalunya ketika bersama orang lain. hingga ia saling menanyakan tentang kabar dan berbagi cerita masalah pribadinya.

Karena merasa semakin terhibur, hingga tanpa disengaja dengan mudahnya sharing segala hal yang terjadi dalam rumah tangganya tanpa memilah terlebih dulu apa yang boleh di ceritakan dan apa yang tidak boleh di ceritakan.

"Membuka Cerita Yang Seharusnya Tidak Di Ceritakan"

Seharusnya selalu ingat, sebaik apapun orang yang menjadi teman kita di media sosial, kita tidak boleh melampaui batas wajar dalam membuka cerita pribadi yang seharusnya tidak boleh di ceritakan terhadap orang lain.

Mungkin mulanya hanya berniat ingin sharing biasa saja. Tetapi begitulah seorang wanita, dari hanya sekedar ingin bercanda dan bercerita sesuatu yang tak penting hingga berkelanjutan membuka aib keluarganya sendiri.

Disitulah awal mula seorang wanita menjadikan media sosial sebagai pemecah masalah yang menurutnya lebih  menyenangkan dan cepat teratasi ketimbang mendiskusikan dengan suaminya.

"Menjadi Kebutuhan, Dan Pada Akhirnya Lebih Merasa Nyaman Dengan Orang Lain"

Karena merasa lebih baik berada di media sosial yang terhubung dengan banyak orang-orang baru, hingga berkelanjutan menjadi sebuah kebutuhan yang berkepanjangan. Yang biasanya setiap keluhan ia tumpahkan kepada suaminya, kini ia tumpahkan terhadap orang lain.

"Mulai Berbohong Pada Suaminya Meskipun Hal Kecil"

Karena sudah berkelanjutan, ia mulai berani melakukan kebohongan-kebohongan kecil kepada suaminya, segala kejujuran dan keterbukaan yang biasa digunakan untuk berdiskusi dengan suaminya kini sudah tidak penting baginya.

Pada akhirnya ia merasa lebih nyaman dengan orang lain ketimbang dengan suaminya sendiri. dari situlah kepercayaan dan kejujuran sudah tidak ada lagi arti. hingga cekcok, pertengkaran dan kebohongan menjadi jembatan penghantar perpisahannya.

penulis :

Iklan Tengah Artikel 2