√ 5 Tanda Anak Tidak Percaya Diri Yang Harus Bunda Ketahui Penyebabnya ...

Mungkin bunda pernah mendengar anak berkata, “bunda, aku enggak berani,” atau “bunda, kayaknya aku enggak bisa.”

Ketika pernyataan tersebut sering terucap dari bibir anak, maka ini sudah waktunya bunda harus lebih perhatian pada anak. Sebab, Ada kemungkinan besar jika ia merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri.

Pada usia anak antara 4-5 tahun, kemudian bunda mendapati anak kurang percaya diri, hal ini memang terlihat wajar. Sebab, ada saatnya ketika anak merasa kurang mampu, atau merasa khawatir jika teman-temannya tidak mau mengajaknya bermain lagi. Namun jangan terus menerus dibiarkan begitu saja. sebab, apabila bunda dan ayah kurang peka pada situasi anak yang seperti ini, justru bisa semakin menyuburkan rasa kurang percaya diri pada anak. Bahkan, terkadang orang tua turut andil dalam “menumbuhkan” rasa ketidakpercayaan pada  diri anak.


Lalu, apa sajakah ciri-ciri anak tidak percaya diri?

1. Pemalu
Anak yang tidak mempunyai rasa percaya diri cenderung lebih pemalu. Tak jarang ia seringkali menghindari saat bertemu dengan orang baru, ataupun anak merasakan kesulitan saat berada pada situasi yang menurutnya asing.

Bunda bisa mudah menemukan perilaku anak pada saat bersembunyi dibalik tubuh bunda ketika diajak berkenalan dengan orang lain. Atau saat anak lebih banyak berdiam diri di pinggir area playground daripada tertarik untuk mencoba permainan baru bersama teman-temannya.

bahwa sikap anak yang malu-malu itu terkadang terlihat wajar. Namun faktanya, ada sebagian anak yang memang cenderung lebih “lama panasnya” alias slow-to-warm-up ketika berada di situasi baru.

Namun, apabila anak tidak kunjung tertarik untuk berbaur atau terus menolak bermain dengan teman-temannya, maka bunda perlu menganggap sikap pemalunya ini sebagai tanda perilaku anak yang tidak percaya diri.

2. Insecurity
Anak-anak yang tidak percaya diri seringkali merasakan tidak aman ataupun justru mengalami insecurity. Ia bisa saja merasakan cemas yang berlebihan apabila tidak menemukan bunda, ayah, ataupun pengasuhnya di dekatnya.

Bagi anak, ia hanya merasa lebih aman apabila terus-menerus berada di dekat orang-orang yang menjaganya. Boleh jadi bunda merasakan hal ini wajar. Namun Sayangnya, apabila anak beranjak besar dan mulai bersekolah, tentu saja hal ini perlu dikikis secara perlahan-lahan. Bagaimanapun juga, bunda tidak bisa terus-terusan mendampingi anak saat ia berada di kelas.
.
Di sisi lain, perasaan anak yang tidak aman bisa membuat ia terlalu bergantung pada bunda, ayah, ataupun pengasuhnya. Biasanya ia akan cenderung tidak tertarik untuk berteman dengan orang lain, atau justru malah lebih memilih tidak mempunyai teman sama sekali. Pada akhirnya Ia lebih suka berada di rumahnya saja.

Apabila dibiarkan berlarut-larut, sikap demikian akan membuat anak sulit mengambil keputusan. Apa-apa harus bertanya dulu pada bunda, ayah, tanpa bisa memutuskan sendiri mana yang baik dan mana yang tidak untuk dirinya sendiri.

3. Merasakan takut
Anak yang tidak percaya diri seringkali merasa takut pada suatu hal yang mungkin bunda anggap biasa.

Padahal, anak yang usianya 4-5 tahun itu sedang aktif-aktifnya untuk menjelajahi dunia baru mereka. Malah kadangkala mereka cenderung lebih spontan tidak berfikir dua kali untuk mencoba sesuatu yang baru. Misalnya seperti meluncur dari seluncuran yang tinggi atau suka memanjat dinding.

Sedangkan bagi anak yang tidak percaya diri, justru ketakutan itu sudah terbentuk dalam pikirannya. Misalnya, ia akan takut lebih dulu sebelum mencobanya, seperti meluncur dari papan seluncuran karena khawatir ia akan jatuh. Terkadang ia akan selalu menganggap “Ah, pasti nanti aku jatuh”

Bisa jadi anak tersebut berusaha untuk hati-hati. Namun, kehati-hatiannya tersebut justru cenderung berlebihan, sehingga membuat anak lebih banyak menahan dirinya ketimbang mencoba hal-hal baru.

4. Suka menunda
Pada umumnya usia anak-anak dikenal sebagai pribadi yang penuh rasa ingin tahu, suka bereksperimen, dan mudah tertarik untuk mencoba hal-hal baru. Namun hal ini tidak berlaku bagi anak yang tidak memiliki rasa percaya diri.

Ia cenderung suka menunda melakukan hal tersebut. Pikirnya, “Nanti aja ah coba-nya,” atau justru ia berfikir “Aku enggak mau coba, kayaknya itu susah. Pasti aku nanti nggak bisa.”

Semua ini bisa berpangkal pada kesulitan anak untuk menerima kegagalan secara positif. Pada akhirnya, ia pun tidak akan tertarik untuk mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan.

5. Mudah Pesimis
Kalau anak suka mengatakan kalimat “Aku enggak bisa apa-apa” berarti hal ini menunjukan bahwa ia tengah bersikap pesimis. Bahkan, sebelum ia mencoba sesuatu.

Ia juga selalu berfikir, setiap percobaan bisa berujung pada kegagalan. Karena anak tersebut takut gagal, ia lebih memilih untuk tidak melakukan apapun.

Kenapa anak takut gagal?

Ada kemungkinan besar anak merasa khawatir dengan respons orangtuanya yang selalu menanggapi kegagalannya dengan kalimat meremehkan, misal “Ah, kamu gimana sih, gitu aja kok nggak bisa?”

Bayangkan saja, apabila hal ini ia temui dan alami setiap hari. Tentu saja anak akan selalu bersikap pesimis, dan pada akhirnya akan terbentuk dalam diri anak.

Untuk ciri-ciri anak yang tidak percaya diri memang terlihat normal. Namun, sebetulnya dalam diri mereka "tidak".

Ada banyak konsekuensi besar yang harus anak tanggung apabila bunda tidak segera menanganinya, misal perkembangan anak menjadi terhambat, sosialisasinya berkurang, Dan terhambatnya pengenalan baru, dll.

Sebenarnya ada banyak sekali faktor penyebab mengapa anak merasa tidak percaya diri. Dan tugas bunda ialah menemukan lebih dulu apa penyebabnya. Setelah itu barulah kerjasama bersama ayah, untuk bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dengan cara perlahan-lahan.

penulis :

Iklan Tengah Artikel 2