√ Cara Menghadapi Anak Keras Kepala Dan Suka Berdebat Dengan OrangTua ...

Saat bunda mendidik dan membesarkan anak, ada beberapa sifat anak yang sering terlihat, Salah satunya ialah sifat keras kepala.

Di usia anak sekitar 6-9 tahun, biasanya anak-anak akan mulai memiliki suatu keinginan tersendiri dan terkadang pula ia memaksakan kehendaknya agar keinginannya tersebut bisa terwujud.

Apabila orangtua tidak mewujudkan keinginannya tersebut, seringkali muncul suatu perdebatan antara anak dan orangtua, sehingga bunda mulai merasakan jika anak memiliki sifat yang keras kepala.

Sifat keras kepala sebenarnya bisa saja menjadi salah satu ciri khas yang ditunjukan oleh anak-anak bahkan sejak ia masih bayi.

Penting untuk bunda pahami, bahwa sifat keras kepala ini adalah bagian dari kepribadian anak, namun pada sebagian lainnya sifat ini justru bisa menjadi salah satu cara mereka untuk menegaskan keinginannya tersebut.

Untuk menghadapi anak keras kepala tersebut, sebaiknya bunda perlu melakukan beberapa tips yang tepat. Jika tidak, bisa saja hubungan komunikasi antara bunda dan anak justru menjadi terhambat karena suatu pertengkaran.


Cara Mengatasi Anak Keras Kepala Yang Sulit Di Kendalikan
Berikut ini kami rangkum beberapa informasi penting tentang cara mendidik anak yang keras kepala ialah:

1. Dengarkan Dan Jangan berdebat
Komunikasi merupakan jalan dua arah. Jika bunda menginginkan anak mendengarkan ucapan orangtua. maka bunda sebaiknya mengalah dan lebih dulu mendengarkan apa keinginan anak.

Umumnya, Anak-anak yang berkemauan keras mungkin memiliki pendapat yang cukup kuat dan cenderung suka membantah apa yang dikatakan oleh orangtua.

Anak-anak yang memiliki sifat keras kepala mungkin saja akan dengan mudah meluapkan emosinya, terutama ketika ia merasa tidak didengar.

Jadi, dengarkanlah lebih dulu apa yang menjadi keinginan anak, dan lakukanlah suatu percakapan terbuka tentang apa pendapat anak dan pendapat bunda.

Untuk hal penting lainnya, Hindarilah langsung memotong pembicaraan anak dan hindarilah menasihatinya dengan panjang lebar. Sebab, Jika bunda langsung memotong pembicaraan anak, justru ia akan semakin enggan untuk berkompromi dengan pendapat bunda.

2. Jangan paksakan anak
Saat bunda memaksakan keinginan anak, terutama suatu hal yang tidak mereka sukai, justru anak dengan sifat keras kepala akan cenderung memberontak. Bukan tidak mungkin, ia juga akan marah-marah dan semakin berani pada orangtua. Oleh sebab itu, sebaiknya bunda bisa menghindari kebiasaan suka memaksakan anak.

Sebaliknya, jika bunda menginginkan anak mau mendengarkan dan mengikuti nasihat dari bunda, lakukanlah pendekatan secara perlahan-lahan. Dan hindari berdebat ataupun saling menguatkan pendapatnya.

Sebagai contohnya, ketika anak bersikeras tetap ingin menonton televisi melewati batas waktu jam tidurnya, sebaiknya bunda jangan langsung marah-marah dan jangan langsung mematikan televisinya.

Cara yang tepat, duduklah bersamanya dan tunjukanlah apa minat anak ketika menonton televisi. Setelah itu beritahu tentang jam tidurnya dan apa akibatnya jika ia kesiangan.

Padahal, jika bunda menunjukan rasa kepedulian yang tepat, maka anak-anak akan tertarik untuk meresponnya dengan baik.

Selanjutnya, ketika hubungan dan rasa percaya pada anak sudah mulai terbangun, maka anak bunda akan lebih mudah untuk menerima saran dari orangtua.

3. Tetap tenang dan hindarilah ikut terbawa oleh emosi
Ketika bunda sedang emosi, umumnya lebih cenderung suka berteriak pada anak? ia bukan?

Sebaiknya ketika bunda menghadapi anak yang keras kepala, hindarilah emosinya.

Berteriak pada anak yang suka menantang dan membantah, anak juga akan ikut berteriak. Hal ini tentunya akan mengubah percakapan menjadi seperti perang antara anak dan orangtua.

Anak keras kepala mungkin saja akan menganggap bahwa nada tinggi dari bunda sebagai ajakan untuk bertengkar dan memotivasi mereka menjadi demikian.

Sebagai orang yang lebih dewasa, bunda diharapkan agar bisa lebih bijaksana ketika berbicara dengan anak. Bantulah anak-anak bunda untuk bisa memahami perlunya berperilaku dan berbicara dengan tenang.

Ketika momen berbicara anak dengan bunda sudah mulai menguras emosi, lakukanlah hal-hal kecil supaya bunda tetap tenang. Misalnya menarik nafas dalam-dalam, mencuci muka sejenak ataupun menghindari ruangan tersebut terlebih dahulu.

4. Ciptakanlah lingkungan rumah yang menyenangkan
Anak-anak selalu belajar melalui observasi dan juga pengalaman. Jika anak melihat orangtuanya berdebat sepanjang waktu, maka anak bunda justru akan belajar menirunya. Misalnya ketika bunda dan ayah sering bertengkar di rumah dan di dengar ataupun disaksikan oleh anak-anak.

Sebenarnya, Perselisihan orangtua bisa menciptakan lingkungan yang penuh tekanan di rumah, yang pada akhirnya dapat memengaruhi suasana hati, perasaan dan juga perilaku anak.

Menurut study penelitian, perselisihan dalam rumah tangga bisa menyebabkan suatu masalah sosial, bahkan pada kejiwaan anak-anak.

5. Berikanlah alternatif pada anak
Ketika bunda ingin Memberitahukan pada anak keras kepala tentang apa yang harus ia lakukan dengan tekanan, justru bisa membuat ia semakin memberontak.

Sebaiknya, tawarkan terlebih dulu kepada mereka suatu pilihan untuk mereka lakukan, sebab dengan cara ini bisa membuat mereka merasa memiliki kendali dan juga pilihan.

Selain itu, Anak juga lebih menghargai adanya suatu pilihan ataupun alternatif dari orangtuanya. Dengan secara mandiri mereka dapat memutuskan apa yang harus ia lakukan.

Tetap Pertahankanlah suatu pilihan terbatas untuk menghindari rasa bingung pada anak. Berikan saja pilihan setidaknya 2 atau 3 pilihan saja.

Sebagai contohnya, ketika bunda meminta anak untuk membersihkan kamarnya, tanyakanlah lebih dulu, apakah mereka ingin memulai membersihkan tempat tidurnya, belajar dulu ataukah membersihkan tempat mainannya.

6. Jangan ragu untuk memberikan aturan dan hukuman Pada Anak.
Menghadapi Anak keras kepala membutuhkan aturan dan suatu peraturan untuk bisa belajar mengendalikan diri mereka.

Jadi, bunda dan ayah harus bekerja sama dalam hal ini, jangan ragu untuk menetapkan suatu batasan dan jelaskan apa konsekuensinya jika anak melanggarnya.

Jika perlu, mintalah kepada ayah tentang masukan apa yang cocok jika anak melanggarnya. Selain itu, bunda juga harus memberitahukan kepada anak tentang hukuman apa yang anak ingin jika ia melanggar aturan tersebut. Jadi, antara anak dan kedua orangtua akan menjalin kerjasama dalam lingkungan keluarga.

Selain hal tersebut, Penting juga untuk tetap bersikap fleksibel pada saat-saat tertentu, misalnya ketika keluarga sedang berlibur.

7. Cobalah untuk berfikir dari sisi pandang anak
Sebaiknya, bunda Jangan terburu-buru stres ketika menghadapi anak keras kepala. Cobalah Lihat masalah yang dihadapi dari sudut pandang anak, dan cobalah untuk bisa memahami mengapa anak berperilaku seperti itu.

Sebagai contohnya,
Misalnya saja ketika bunda berjanji untuk mengajak anak ke taman, namun secara mendadak tidak jadi karena cuaca hujan. Dalam hal ini, bunda harus bisa menjelaskan secara detail pada anak. Karena meskipun alasannya sudah jelas, kemungkinan besar anak tetap akan berfikir sebagai janji yang telah dilanggar.

Naah, ketika bunda bisa menjelaskannya secara perlahan-lahan dan memberikan pemahaman pada anak, mungkin saja anak bisa lebih menerima hal tersebut dan tidak akan marah.

Demikianlah cara yang bisa bunda lakukan untuk mendidik anak keras kepala. Apabila bunda membutuhkan bantuan, jangan pernah ragu untuk mengajak ayah dan anggota keluarga yang lainnya untuk ikut memberikan solusi.

Author :

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Komentar Untuk "√ Cara Menghadapi Anak Keras Kepala Dan Suka Berdebat Dengan OrangTua ..."

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 2