√ 5 Tips Penting, Menghadapi Anak Pubertas Di Usia Dini / Puber Terlalu Cepat

Masa pubertas  ialah salah satu milestone besar dalam kehidupan manusia. Hal ini memengaruhi pada perubahan bentuk fisik dan juga mentalnya, kadangkala perlu waktu untuk bisa diterima. Kebanyakan dari anak-anak justeru mengalami masa sulit ketika memasuki masa pubertas.

Mereka harus bisa membiasakan dirinya dengan sakitnya pay*dara yang mulai tumbuh, merasa tidak nyaman saat haid, pada laki-laki seperti repotnya mempunyai kumis dan bulu-bulu lain, suara mulai menjadi serak dan tidak enak, dan mengalami mimpi basah yang terkadang bikin malu.

Nah, pada masa puber ini pada umumnya akan terjadi mulai usia 10 hingga 12 tahun. Di saat itu, ada juga anak-anak yang mengalaminya lebih cepat daripada anak lainnya, namun ada juga yang terlambat.

Cepat ataupun lambatnya masa pubertas pertama ini tergantung pada kesiapan fisik anak. Namun, jika mengalaminya terlalu dini, dalam artian anak bunda mengalaminya sebelum teman-temannya puber, ia pasti akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi.


Poin Penting Menghadapi Anak Pubertas Usia Dini

1. Mulailah untuk memberikan pendidikan tentang edukasi soal puber di usia 6 tahun.
Masa pubertas, pasti saja akan dialami oleh setiap anak. Usia normal mengalami pubertas ialah 12 tahun lebih 4 bulan.

Anak perempuan yang mengalami masa pubertas dini ialah jika ia sudah mulai tumbuh pay*dara ataupun haid di usia 8 tahun. Sedangkan pada anak laki-laki yang mengalami puber dini jika di usia 9,5 tahun sudah mulai tumbuh bulu-bulu dan mengalami mimpi basah.

Supaya anak-anak tidak terkejut ataupun kaget mengenai kondisi puber, bunda harus bisa memberikan edukasi tentang hal ini saat anak-anak sudah masuk sekolah dasar.

Pengetahuan tentang masa pubertas merupakan bagian dari pendidikan. Hal Ini gunanya supaya anak-anak sudah mempersiapkan mentalnya saat mereka menghadapi masa pubertas.

Jane Mendlle, seorang psikolog sekaligus profesor dari Universitas Cornell telah mengatakan, bahwa anak-anak yang mengalami masa puber dini lebih cenderung stres, depresi, dan juga mengalami kesulitan-kesulitan dalam bergaul dengan teman-temanya.

Mereka lebih merasa dirinya paling aneh, sebab bagian bentuk fisiknya tidak sama dengan anak-anak yang lain. Pay*dara yang tumbuh terlalu cepat bisa membuat anak perempuan enggan untuk melakukan aktifitas fisik, misalnya seperti olahraga. “Mereka merasa tidak nyaman karena bagian pay*dara yang tumbuh terasa sakit dan juga mengganggu banyak aktifitasnya, terutama saat olahraga,” - jane mendlle

Jane juga mengatakan, anak-anak akan menerima kondisinya saat puber, jika ia sudah mengetahui bahwa semua orang juga akan mengalami masa puber, dan bisa membayangkan apa yang akan dialaminya pada saat itu.

Pentingnya memberikan Pendidikan edukasi  saat masa pubertas sejak dini akan membuat anak lebih memahami mengenai pubertas pada dirinya. Lagipula, bunda juga akan memiliki cukup banyak waktu untuk memberikan pengetahuan dan lebih santai saat mengajarkan pendidikan pemahaman edukasi ini.

2. Mengungkapkan yang dialami anak pada guru-Nya
Seperti yang sudah dijelaskan pada poin yang pertama, anak-anak yang sudah mengalami masa puber akan cenderung banyak mengalami kesulitan untuk bergaul dengan teman-temannya. Mereka, jika tidak memiliki banyak pengetahuan mengenai masa pubertas, akan berfikir, “kenapa hal ini terjadi padaku? Mengapa aku berbeda dari yang lain?”.
Perasaan buruk yang seperti itu akan memengaruhi perkembangan dan juga psikologis anak, sehingga mereka akan merasa minder dan mengalami depresi.

"Anak-anak yang mengalami masa pubertas dini dan tidak mempunyai banyak pengetahuan mengenai hal itu, maka ia tidak bisa menerima dirinya sendiri pada saat itu.

Perbedaan dan perubahan fisik yang dialaminya justeru akan membuatnya dijauhi oleh teman-temannya. Tanpa pengetahuan yang cukup, ia tidak akan bisa menjelaskan kepada teman-temannya dan justeru lebih memilih untuk mundur dari pergaulannya,” kata Cosette Taillach, seorang psikoterapis dari Kaiser Permanente, Oaklands, California.

Jika hal ini terjadi, maka bunda harus bisa membantu anak bunda dengan cara menjelaskan dan mengungkapkan masalah ini pada guru sekolah.

Umumnya, Pihak sekolah akan membantu anak bunda dengan memberikan izin kepada anak bunda ganti baju saat olahraga di ruangan terpisah. Ataupun dengan cara memberikan pendidikan edukasi kepada murid-murid yang lainnya supaya mereka bisa memahami apa yang terjadi pada anak yang sudah mengalami puber.

3. Tidak memaksa anak untuk bicara
Anak bunda yang sudah mengalami masa puber mungkin akan sangat malu untuk menceritakan masalahnya kepada orang lain, bahkan kepada orang tuanya sendiri.

Cara terbaik yang bisa bunda lakukan ialah dengan cara tidak memaksa si Anak untuk menceritakan kondisi ataupun perasaannya. Sebab, dengan memaksa mereka hanya akan membuatnya perasaan hati mereka menjadi buruk dan mungkin saja mereka malah marah kepada bunda.

Berikanlah  anak bunda waktu untuk bisa memahami dirinya sendiri. Yang terpenting ialah bunda bisa membaca tanda-tanda emosional yang mereka tunjukan.

Selesaikanlah masalah emosionalnya yang terlihat pada si anak, misalnya saat ia terlihat murung, tanyakanlah mengapa ia murung, tanpa menyinggung masalah lainnya dan memperbesar masalah mereka akan kondisinya yang berbeda itu.

4. Gunakanlah buku ataupun film sebagai alat komunikasi
Buku ataupun film merupakan  sarana yang baik untuk menjadikan media komunikasi. Gunakanlah buku cerita ataupun film mengenai masa-masa pubertas sebagai alat edukasi-Nya.

Masa-masa pubertas memang cukup menarik untuk dibahas dalam film ataupun buku, karena hal ini merupakan masa-masa yang cukup kompleks dalam sejarah hidup manusia. Konflik antara emosi dan juga psikologis yang kuat menjadi salah satu sumber cerita  untuk mengatasi pubertas.

Lewat buku ataupun film, bunda juga akan lebih mudah untuk memasukan nilai-nilai moral, pengetahuan, dan juga menjelaskan cara penyelesaiannya dengan bahasa orang ketiga, sehingga tidak berkesan untuk menggurui ataupun memaksa.

5. Selalu siap sebagai tempat curhat
Meskipun anak-anak lebih enggan untuk berbicara dengan orang tua-nya mengenai masa puber, akan tetapi mereka tetap membutuhkan teman untuk bicara. Artinya, bunda ataupun ayah harus selalu siap menjadi tempat curhat mereka.
Biarkanlah mereka bercerita jika ia merasa perlu menceritakan masalah yang di alaminya.

Selalu tahan diri untuk tidak emosi, defensif, ataupun menekan anak. Berikan kesempatan kepada mereka untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Jawablah pertanyaan mereka, berikan solusi jika mereka membutuhkan-Nya, berikan juga saran jika mereka menginginkan-Nya.

penulis :

Iklan Tengah Artikel 2