√ Perilaku Empati Yang Diharapkan Anak Dari Orang Tuanya

Seorang anak yang masih dalam tahap perkembangan di usia dini, tentunya mereka belum bisa mengekspresikan diri dengan terampil, akan tetapi seorang anak juga memiliki pendapat dan Perasaan.

Dengan demikian, Berkomunikasilah dengan rasa empati pada anak, dan mulailah dari sekarang untuk meningkatkan kepercayaan diri pada anak.

Hal-hal seperti apakah yang bisa kita lakukan untuk memberikan empati pada anak? Marilah simak hal-hal di bawah ini :


1. Percayalah pada anak, dan dampingilah kegiatan yang dilakukannya.

Sebenarnya, Banyak hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh setiap anak. Percayakanlah jika anak anda bisa melakukannya, dan yang perlu kita lakukan hanyalah mendampinginya.
Misalnya saja ketika anak anda memakai sepatu sendiri dirumah, atau ketika anak anda akan pergi kesekolah.

Sebagai contohnya, saya selalu mengajarkan kepada anak-anak didik saya pada saat mau pulang kerumah setelah pembelajaran. Janganlah mengatakan kalimat “Sini! Bunda saja yang pakaikan”. akan tetapi, sebaiknya kita menggunakan kalimat “Bunda tunggu ya sampai kamu selesai memakai sepatunya”.

Jika anak sudah berusaha memakai sepatu namun merasa kesulitan, barulah bunda bisa ikut membantunya. Hal ini tentunya akan membuat anak belajar secara mandiri dan mendukung apa yang mereka lakukan.

2. Berikanlah pujian.
Ayah atau Bunda seberapa sulitkah untuk mengatakan pujian pada anak kita?

Marilah kita puji anak kita setelah apa yang mereka capai meskipun itu sesuatu yang sepele. Mari  kita tinggalkan sejenak kegiatan kita dan berilah pujian terbaik pada anak kita.

Misalnya, seorang anak berhasil menyusun lego hingga membentuk sebuah menara, kemudian sang anak mendekati ayahnya yang sedang sibuk dengan kerjaanya.
Ketika anak mendekat, Janganlah menggunakan kalimat “Ayah sibuk, nanti ya ayah lihat”  akan tetapi, sebaiknya kita menggunakan kalimat ”Waah, coba kita lihat seberapa kerennya menara yang kamu bangun”.

Tentunya hal ini akan membuat rasa bahagia pada diri anak untuk terus mencoba hal-hal baru.

3. Janganlah memperlihatkan kekecewaan saat anak berbuat kesalahan.
Anak anda berbuat kesalahan? Yaa itu adalah salah satu perilaku alami pada diri anak.

Anak adalah pribadi yang cukup unik.
Selain itu, anak-anak juga akan belajar secara bertahap, seperti mereka belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan.
MIsalnya kita memberikan mereka makanan, dan mereka makan dengan sendiri meskipun makanan tersebut tumpah ke mana-mana dan belepotan di mulutnya.

Katika menjumpai hal tersebut, Janganlah mengatakan kalimat “Tumpah lagi, tumpah lagi”  akan tetapi, sebaiknya kita menggunakan kalimat ”Wahh anak mama sekarang sudah bisa makan sendiri ya”.

4. Perlihatkan antusiasme anda terhadap permainan yang dilakukan oleh anak.
Ayah atau Bunda, perlihatkanlah antusias anda kepada anak ketika dia sedang memainkan sesuatu, kita tidak harus melakukan hal serupa, akan tetapi dengan ucapan yang mendukung akan membuat diri anak menjadi bahagia.

Misalnya ketika anak kita yang perempuan sedang memainkan sebuah boneka, dan dia sedang mempraktekan untuk menidurkannya.
Dalam hal ini, bunda Janganlah mengatakan kalimat “Wahh anteng yaa main sendiri”  akan tetapi, sebaiknya kita menggunakan kalimat ”Bonekanya lagi mau diboboin yaa, anak mama pintarrr?”.

5. Tanggapilah perkataan anak seolah-olah dia yang paling berharga di dunia ini.
Seringkali kita melihat anak yang begitu antusias menyampaikan apa yang telah mereka ketahui, mereka menceritakannya tanpa henti dan kita sebagai orang tua adalah orang yang paling pertama dia cari untuk menceritakan pengetahuannya.

Misalnya ketika anak mencari kita dan dia bicara banyak dan meskipun kita tidak mengerti tetapi kita sebagai orang tua harus bersikap baik terhadapnya.
Janganlah menggunakan kalimat “Kamu ngomong apa? Bunda tidak mengerti”  akan tetapi akan lebih baiknya lagi jika kita menggunakan kalimat "ooh, Begitu rupanya, terus apalagi yang kamu bisa sayang, coba ceritakan pada bunda/ayah".

6. Berbicaralah dengan mulut, mata dan tubuh anda.
Anak memang pribadi yang sangat unik, dia terkadang tidak menyampaikan apa yang dia mau secara langsung, akan tetapi kita sebagai orang tua harus bisa memahami tentang gerak gerik anak kita sendiri.

Misalnya saja ketika anak kita ingin bermain bola.
Janganlah menggunakan kalimat “Mau bermain bola? Kasih tau Bunda dong”  akan tetapi akan lebih baiknya lagi jika kita menggunakan kalimat ”Rupanya kamu kepingin bermain bola ya, ayoo bermain dengan baik yaaa.?”.

Nahh itulah beberapa sikap kita sebagai orang tua yang harus memberikan empati pada diri anak.

Ketika kita memberikan kalimat dengan tekanan, bentakan pada anak mereka akan cenderung menutup dirinya, akan tetapi ketika kita memberikan kalimat yang positif, yang bisa menghargai diri anak dan tak lupa memberikan sebuah senyumnya termanis dari kita, yakinlah anak akan berkembang menjadi pribadi yang baik.
Jadi, bagaimana bunda pernahkah bunda melakukan hal di atas? Mari berbagi pengalaman bunda ketika memberi empati kepada anak di kolom komentar ya.. ^^

penulis :

Iklan Tengah Artikel 2