√ Cara Melatih Anak Bertanggung Jawab dan Menaati Peraturan

Orang tua mana yang tidak menginginkan jika anaknya bisa bahagia dan senang?
Tentunya, Setiap orang tua tidak akan tega jika melihat anaknya mendapatkan masalah, baik itu di rumahnya, ataupun di lingkungan sekolahnya. Tak jarang, seringkali orang tua akan membela Anaknya meskipun mengetahui kalau ia bersalah dan harus bertanggung jawab.

Bahkan, ada juga sebagian orang Tua yang rela ribut dengan orang tua lainya ataupun guru, demi menutupi kesalahan anaknya.

Jika perilaku yang seperti ini di lakukan oleh bunda, maka tidak baik bagi seorang ibu menerapkan cara tersebut, apalagi jika hal itu dilakukan pada saat si Anak masih dalam lingkungan belajar.


Apa alasanya seorang Ibu/ayah tidak boleh menutupi kesalahan yang dilakukan oleh anak?

1. Seringkali Orang tua menggunakan kekuasaanya untuk membela anak.
Dari Lissa Damour, seorang psikolog, dalam tulisannya tersebut untuk The New York Times, telah menceritakan pengalamanya pada saat mengajar di universitas.

Saat itu, Salah satu dari mahasiswinya kedapatan menyalin tugas kuliah. Kemudian Beliau memanggil anak tersebut untuk bicara soal aturan sekolah tentang plagiarisme.

Saat itu, Obrolan mereka cukup lancar, sampai pada saat Lissa mengalihkan pembicaraanya tentang tugasnya. Kemudian Remaja perempuan tersebut langsung meraih tasnya dan pergi meninggalkan Lissa.

Rasanya pembicaraan tersebut belum selesai, akan tetapi mahasiswi tersebut keluar gedung kemudian ayahnya menelepon Lissa dan mengancam akan memperkarakan pemanggilan tersebut kedalam ranah hukum.

Pastinya dalam hal ini sang Ayah mempunyai jabatan penting, sehingga bisa dengan mudahnya melontarkan ucapan ancaman tersebut. Tentunya Hal ini sangat disayangkan sekali, sebab mahasiswi tersebut menolak untuk mengakui kesalahanya, dan sang Ayah menyalahgunakan kekuasaanya untuk membela putrinya tersebut.

Hal ini merupakan sikap orang tua yang tidak baik untuk ditiru, sebab perilaku anak akan bangga dan mengandalkan kekuasaan orang tua-Nya untuk menyelamatkan dirinya demi lari dari kesalahanya.

Menyelesaikan masalah merupakan suatu keterampilan yang perlu dilatih dan orang Tua harus bisa menanamkan sikap disiplin serta kejujuran dalam keseharian anaknya.

2. Melatih disiplin sejak kecil
Meskipun kisah diatas sudah sangat lampau, akan tetapi rasanya sangat relevan dengan beberapa kasus yang seringkali terjadi di Indonesia belakangan ini.
Sikap Anak-anak tidak lagi menghormati gurunya, dan orang tua justru melakukan pembelaan demi menutupi kesalahan anaknya.

Kembali pada inti pokok diatas,
orang tua manakah yang tidak menginginkan anaknya senang?
Namun jika bunda/ayah melakukan hal yang sama dengan ayah tadi, sesungguhnya secara tidak sadar telah menghancurkan masa depan dan kepribadian si anak.

Ditulis oleh Lissa, menurut penelitian, justru anak-anak yang rajin, tertib, dan bisa mengendalikan dirinya, justeru akan lebih banyak tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia dan berkembang menjadi orang yang tanggung jawab.

Namun, apabila orang tua membela anaknya menyalahi aturan yang telah disepakati, memang mereka akan senang pada saat itu. Akan tetapi, di masa depannya, dia akan mengalami banyak kesulitan-kesulitan, karena tidak terbiasa disiplin dan mandiri.

3. Bersikaplah tega saat anak sedih ataupun kecewa.
Orang Tua yang tidak tega melihat anaknya sedih ataupun kecewa, justeru akan menggiring perilaku si Anak pada masa depanya menjadi anak yang manja ataupun kurang mandiri.

Oleh sebab itu, orang Tua harus bisa tegas dalam setiap aturan yang dibuat, tidak hanya dilingkungan sekolah saja, akan tetapi bisa juga di rumah.

---------
Dimulai dari peraturan rumah, bunda atau ayah bisa menerapkan aturan-aturan yang dirasa sangat penting, dan membiasakan mereka belajar untuk mematuhinya sedari kecil. Namun perlu di ingat, jangan sampai aturan yang bunda buat justeru mengekang kebebasan mereka untuk berkreasi.

Selain itu, Janganlah memberikan keringanan untuk aturan yang sudah disepakati di rumah, apabila anak terus saja melakukan kesalahan. Dengan demikian, maka mereka akan belajar terbiasa dengan menaati setiap peraturan dirumah, kemudian mereka juga akan belajar menaati peraturan yang ada di sekolah.

----------
Nah, untuk aturan di sekolah, sebaiknya bunda atau ayah tidak lagi ikut campur dengan peraturan yang di sepakati sekolah. Percayakan anak anda pada guru yang membimbing mereka. Tentunya, Selama aturan yang dirancang disekolah tersebut masih masuk akal dan baik untuk anak anda, biarkan mereka belajar untuk mematuhinya.

4. Tidak memberikan bantuan secara instan.
Pada umumnya, sikap orang yang terbiasa tidak bertanggung jawab atau tidak jujur, akan mendapatkan kemudahan secara instan. Sebab, mereka meremehkan dan mengandalkan pada orang yang selalu membantunya.

Dampaknya, kebahagiaan yang didapat dengan cara instan tersebut akan mudah berlalu, saat mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa mengambil keputusan secara mandiri.

5. Jangan berhenti menjadi pengingat.
Orang Tua tentunya tidak mau, jika anaknya tidak berbahagia di masa depan?

orang tua juga harus selalu ingat, bahwa kesuksesan seorang anak tergantung dari bagaimana perilaku baiknya di masa kecilnya.

Tidak mudah memang untuk membesarkan anak mempunyai sikap lapang dada. Terkadang, orang tua akan merasa menjadi orang yang sangat cerewet, dan itu sebenarnya sangatlah wajar.

Anak-anak mungkin akan merasakan jika semua aturan yang dibuat terasa sangat menjengkelkan, tetapi bunda harus ingat, bahwa ini semua akan menjadi salah satu 'tabungan' untuk masa depan mereka yang lebih baik agar menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

penulis :

Iklan Tengah Artikel 2