√ 5 Kesalahan Orang Tua Yang Berdampak Besar Pada Perkembangan Anak

Terdapat beberapa kesalahan yang sering dilakukan kepada anak yang terkadang mengganggapnya sebagai hal sepele, padahal pada kenyataanya hal itu memiliki dampak yang besar bagi perkembangan psikologis anak.

Seperti apakah kesalahan tersebut? Bagaimanakah cara menanganinya? Marilah kita bahas bersama:

1. Tidak memperhatikan ketika anak berbicara.
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua adalah tidak memperhatikan ketika anak mengajak bicara.

Terkadang Bunda sering asyik menonton ketika anak mengajak berbicara. Ataupun, bunda asyik dengan handphonenya ketika anak meminta perhatian. Malah terkadang menyentak anak karena merasa perilakunya mengganggu.

Bunda, sebaiknya ketika anak mengajak berbicara, tataplah bola matanya serta berilah perhatian dengan menyimak perkataanya. Bahkan jika diperlukan berikanlah sebuah sentuhan ataupun pelukan pada anak.


Terkadang anak bersikap cerewet dan menanyakan hal yang sama berulang-ulang, yang membuat bunda kesal, akan tetapi sadarilah waktu tersebut takkan pernah kembali karena mereka akan segera tumbuh dewasa dan kehilangan masa kecil mereka.

Bunda, hentikanlah dahulu kegiatan yang bunda kerjakan misalnya menonton televisi ataupun memainkan handphone ketika anak mengajak berbicara dan ingin bercerita. Seorang bunda yang mendengarkan anaknya bercerita kelak akan merasakan manfaat dari hal tersebut.

Beranjak remaja, anak akan merasa nyaman bercerita kepada ibunya daripada kepada teman sekolahnya. Anak akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri serta tumbuh dengan cukup kasih sayang dan perhatian karena mendapatkan dukungan penuh dari bunda tercinta sejak kecil.

Maka mulai dari sekarang, berikanlah perhatian kepada anak ketika mengajak mengobrol. Jika hal ini tidak dilakukan, jangan salahkan anak ketika dia menginjak remaja ataupun dewasa dia memendam masalahnya sendiri ataupun lebih memilih menceritakannya kepada orang lain.

2. Membantu menyelesaikan masalah Tanpa mencari “kambing hitam”.
“Aduh, adik jatuh, ini lantainya nakal, bunda pukul ya lantainya!”

Cara di atas memang membuat anak berhenti menangis, akan tetapi secara psikologis anak akan segera meniru hal tersebut.

Dengan kejadian seperti itu anak akan belajar ketika ada sesuatu yang tidak beres, anak mencari kambing hitam untuk dipermasalahkan!

Maka jangan heran ketika anak tumbuh dewasa, anak akan menjadi seorang pribadi yang mencari kesalahan orang lain dari pada kesalahannya sendiri.

Maka, dari pada hal tersebut terjadi akan lebih baik jika bunda memeluk anak dengan lembut dan mengatakan dengan berhati-hati “Kalau kamu lebih berhati-hati larinya, insya allah kamu tidak akan terjatuh! Maka lain kali lebih hati-hati ya sayang..”

3. Merapihkan mainan anak.
Ketika kita merapihkan mainan anak, memang hal ini lebih cepat dan efektif agar rumah terlihat rapi. Akan tetapi, sadarilah jika kita terus-terusan merapihkan mainan anak hal ini akan membentuk karakter dan kebiasan anak untuk tidak disiplin.

Bunda, sebagai orang tua kita perlu mendidik anak agar dia memiliki karakter disiplin. Ajarilah anak untuk membereskan mainan yang telah dia mainkan dengan cara yang menyenangkan. Anak boleh memainkan mainan dengan berantakan, akan tetapi setelah itu anak harus belajar merapihkannya sendiri.

Jangan mempermudah masalah yang dihadapi anak. Ketika anak makan dengan berantakan, bunda yang membereskan. Ketika anak menghamburkan mainan, bunda juga yang membereskan. Jadi, Kapan bunda mengajarkan anak agar dapat mandiri dan bertanggungjawab?

Bunda sadarilah jika suatu saat kita tidak akan pernah ada lagi di dunia ini, maka jangan sampai meninggalkan anak yang lemah bahkan tidak dapat apa-apa tanpa kehadiran bunda disisinya.

4. Menerobos Antrian
Banyak hal yang terlihat yang justru malah mengajarkan pada anak untuk menerobos antrian, misalnya ketika memasuki ruangan atau kendaraan umum, antri membayar belanjaan dikasir, atau bahkan menerobos lampu merah dijalan raya padahal bunda sedang membonceng anak serta banyak hal lainnya.

Pada dasarnya hal ini memang terlihat sudah biasa di Indonesia, tetapi hal ini menjadi hal yang membuat kita tertinggal dari negara maju. Anak-anak pada negara maju diajarkan untuk tertib ketika mengantri, bahkan mereka merasa malu jika harus menerobos antrian.

Maka, sadarlah bunda bahwa mendidik anak perlu dengan contoh dari kita secara langsung. Katakan dan berilah pengertian kepada anak untuk dapat belajar sabar dan menghargai hak orang lain dengan mengantri ataupun menunggu sebuah giliran meski dalam waktu terdesak ataupun tidak.

5. Meminta kakak mengalah kepada adik
Hal terakhir yang terkadang terlihat sepele akan tetapi berdampak besar pada anak ketika kebiasaan bunda meminta kakak untuk mengalah kepada adiknya.

Misalnya ketika sang kakak sedang asyik bermain boneka kemudian sang adik memintanya, biasanya bunda akan memenangkan sang adik dan sang kakak harus mengalah untuk memberikan mainan tersebut kepada adiknya.

Bunda, cobalah membuat aturan sederhana barang siapa yang sudah bermain duluan maka yang ingin memainkan benda tersebut harus sabar menunggu giliran. Dari hal ini kita akan bersikap lebih adil pada anak daripada terus menerus menyuruh sang kakak untuk mengalah. Karena ketika sang kakak mengalah dia belum tentu paham mengapa dirinya harus selalu mengalah, padahal dia tidak pernah meminta pada bunda untuk dilahirkan duluan.

Biarkanlah kakak dan adik tumbuh dan berkembang dengan saling menyanyangi serta berbagi, jangan lupa ajarkan untuk saling menghormati dan menghargai. Kakak tidak harus selalu mengalah dan adik tidak harus selalu memenangkan, semuanya itu tergantung didikan kita sebagai orang tua.

penulis :

Iklan Tengah Artikel 2